18 April 2011 umurku genap 23. Mengucap syukur hal pertama kulakukan setelah bangun tidur. Air mata tak sanggup dibendung. Dia sungguh baik, bahkan teramat baik buatku. 22 tahun telah kulalui bersama Dia yang memberi kehidupan. Suka dan duka mewarnai hari-hariku. Tak ada yang buruk, karena semua dirancang indah olehNya. Kuputuskan untuk doa puasa di hari lahirku. Setelah selesai berdoa dan ucap syukur untuk kesekian kalinya, kulanjutkan dengan merenungkan firmanNya. Efesus 5:3-4 menjadi renungan dan peringatan keras buatku di awal umur 23 ini. Ada beberapa hal yang kucatat dalam perenunganku untuk ayat ini :
- Semakin menjaga kekudusan, tidak hanya perbuatan tapi juga perkataan. “disebut sajapun jangan di antara kamu,” sangat jelas Dia tidak ingin ada pembicaraan yg tidak kudus keluar dari mulut. Bahkan lebih dari itu, terpikirkan saja sudah menjadi dosa buatNya. Selama ini aku masih sering mengeluh, iri dengan orang lain, membandingkan diri dengan orang lain (it means aku tidak mensyukuri apa yang ada). Aku diingatkan untuk lebih berhati-hati dengan apa yang ada di pikiran dan hatiku. Jagalah kekudusan. Kalau Dia masih memberi kehidupan buatku sampai saat ini, berarti Dia masih ingin memakai hidupku. Hidupku adalah kesaksian bagiNya yang artinya hidupku bukan hal yang begitu saja terjadi tetapi ada tujuan yang terkandung di dalamNya. Jika aku benar-benar mau dipakai, aku harus benar-benar menjaga kekudusan segala lakuku.
- Dia mengingatkanku utk lebih lagi melakukan ayat sidiku, mengucap syukurlah dalam segala hal. Akhir-akhir ini banyak hal yang kulalui dengan datar. Baik senang dan sedih aku lalui begitu saja. Tidak ada ucapan syukur yang mendalam dari diriku. Secara tidak langsung aku mulai tidak peka dengan campur tanganNya dalam hidupku. Aku tidak dapat melihat hal-hal baik dalam hal-hal yang terlihat buruk bagiku. Membaca ayat ini aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang bisa menggambarkan betapa besar rasa syukurku utkNya saat itu. Dia begitu mengasihiku, Dia tidak ingin aku tetap berada pada level yang sama. Ia datangkan masalah untuk membawaku naik ke level yang lebih tinggi. Ia ajarkan aku untuk terus mengucap syukur seberat apapun permasalahan yang datang.
Umur 23 benar-benar mengingatkanku bahwa tugas dan tanggung jawabku di dunia ini semakin besar. Ekspektasi orang-orang kepadaku juga semakin bertambah. Jika aku tidak menaikkan standar dalam hidupku, aku tidak akan mengalami peningkatan. Stuck pada level yang sama berarti tidak bertumbuh, ini sama saja aku menyia-nyiakan waktu yang sudah diberikanNya padaku. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi pertumbuhanku di umur 23 ini. Tidak menjadi Henny yang sama dengan umur-umur sebelumnya, tapi menjadi semakin baik dan semakin disiapkan untuk naik ke level-level selanjutnya. Seperti main games, aku mau menang dan siap menerima tantangan di level selanjutnya. Welcome 23. :)


